Ada diskusi terkait komunikasi di kampus diantara dosen2 ilmu komunikasi, yaitu fungsi Humas sebagai penyalur informasi eksternal dan juga Internal. Kalau bicara itu maka relevan sekali di tengah masalah rekrutmen P3K ini. Saya harus fair, bahwa tidak semua kesalahan itu diakibatkan oleh kepeg, dan tidak semua isu harus dijawab oleh mas Dio. Tidak semua berita harus lewat sosialisasi kan. Kita punya 3 perangkat digital, simpeg, simpel, dan email, buat apa bayar kalau nggak dipake.
Acuan bahwa pimpinan Warek 2 dan Kabiro "tidak tahu apa2" itu terlihat jelas bagaimana menangani masalah di P3K saat ini. Yang mana kondisi seperti ini tidak bisa hanya diredam dengan narasi-narasi spiritual saja. Ini Lembaga bapak/ibu, bukan pengajian. Tidak ada perencananaan yang matang dan atau tidak semacam tindakan yang luwes (contingency plan), itu (kesalahan) ada baiknya diakui saja. Komunikasi itu terbuka, dan cair sehingga bisa saja Lembaga mengakui kesalahan daripada menganggap pembicaraan sebagai noise.
Saya sebenarnya sebagai orang yang kurang lebih tahu lah daripada ahli komunikasi kelembagaan : tidak terbuka itu sangat merugikan Lembaga itu sendiri. Mungkin bagi orang lain yang melihat bahwa sejak kemarin ramai membicarakan di grup chat P3K lalu kemudian ditutup chatnya adalah hal yang biasa, sebaliknya saya melihatnya bahwa itu adalah tindakan yang menutup diri.
Saya seringkali terganggu itu dengan anggapan bahwa diskusi itu semacam "noise" yang tidak ada artinya, yang mengalihkan kita pada fokus, yang berisikan pesimisme, yang hanya berisiskan provokasi dan intimidasi. Bahwa noise itu hanya anggapan-anggapan negatif yang mengarah pada menjelekan dan merendakan (semacam hinaan). Makanya kemungkinanan adanya pihak-pihak yang tidak paham ketika ramai-ramai kemaren itu menjadi semacam lawakan (noise) aja. Tiap orang itu berbeda beda dalam menanggapi dan memberikan komentar, mereka (pimpinan) yang merasa terganggu dengan pembicaraan itu jelas beranggapan bahwa kita ini punya tendensi untuk menjatuhkan melalui noise yang bisa berkembang menjadi isu besar.
Hanya dengan diskui itu ada pembicaraan dan ada nuansa kolaborasi, serta kerjasama. bagaimana mengarahkan energi itu menjadi produktif disitulah seni berkomunikasi. Saya berfikir bahwa siapapun, yang sudah menyebut nyebut dirinya ahli pun bisa BELAJAR, dan itu dimulai dengan menerima masukan, mengakui kesalahan dan berkembang menjadi yang terbaik.






_PRINTABLE%20SOLAR%20CELL%20-%20Asna%20Mala_001.png)
_Air%20Lindi%20sebagai%20pupuk%20cair,%20dalam%20mengurangi%20pencemaran%20tanah%20-%20CLARA%20ALEXANDRA_001.png)



_%20JAGA%20LINGKUNGAN%20LESTARIKAN%20KEHIDUPAN.%20-%20Yu%20Yum_001.png)



%20KONTINU,%20HIJAU.%20TERPADU%20-%20Eugina%20Hutabarat_001.png)




