Saturday, October 24, 2026

Saya bukan institusi Indonesia

"Saya bukan orang indonesia" atau setidaknya keasliannya boleh dipertanyakan, atau saya nggak sepenuhnya merasakan the Indonesian experience.

Bukan berarti saya ingin berbangga dengan hal itu. Namun, sampai usia sekitar 20 tahun, saya menghabiskan hampir separuh hidup saya di luar negeri. Saya tinggal di dua negara karena tugas orang tua, masing-masing sekitar empat tahun. Adik-adik saya bahkan lebih lama tinggal di luar negeri karena mereka sempat berpindah ke hampir tiga negara, sedangkan saya hanya dua negara.

Akhirnya, saya menjadi seseorang yang jauh dari budaya Indonesia. Saya merasa sistem pendidikan Indonesia tidak bisa mengakomodasi orang-orang seperti saya. Akan tetapi, nasionalisme saya boleh diuji karena sejak umur dini saya membela kepentingan Indonesia dengan menjadi yang terdepan dalam mempromosikan budaya Indonesia. Usia kecil saya digambarkan dengan bernyanyi, menari dan memberikan gambaran Indonesia ke mata dunia.

Saya juga ingat sebuah pengalaman saya ketika SD. Kalau tidak salah, waktu itu saya masih kelas satu dan bersekolah di sekolah Indonesia di luar negeri. Ketika kembali ke Indonesia, saya masuk kelas dua. Ternyata, sekolah Indonesia di luar negeri berbeda sekali dengan sekolah di Indonesia.

Saat itu, saya mulai bertanya-tanya tentang manfaat sekolah. Saya pernah diminta menghafal nama-nama provinsi beserta ibu kotanya. Kalau tidak salah, ada juga nama-nama kabupaten atau pembagian wilayah lainnya.

“menghafal segitu banyak nama-nama itu sebenarnya manfaatnya apa?”

Di Indonesia, saya juga mendapat pelajaran Pendidikan Moral Pancasila atau PMP, yang kemudian berubah menjadi PPKn. Saat itu, saya merasa pelajaran tersebut seperti doktrin. Rasanya kurang lebih seperti agama, tetapi saya menganggap pelajaran agama lebih penting daripada PPKn.

Sekarang, saya merasa hal-hal seperti itu memang penting. Namun, mengapa waktu itu saya berpikir sebaliknya? Ternyata, persoalannya bukan sekadar penting atau tidak penting. Persoalannya juga menyangkut siapa yang menempatkan sesuatu sebagai hal penting, yaitu para guru. Di belakang guru, tentu ada sistem ada institusi.

“Saya tidak bisa menyalahkan guru saja karena ada sistem di belakangnya yang mewajibkan itu untuk disampaikan”

Guru juga belajar menjadi guru melalui suatu institusi. Karena itu, saya merasa persoalan ini tidak berhenti pada tindakan seorang guru saja.

Selain pelajaran PMP atau PPKn, saya juga merasakan perbedaan dalam struktur sosialnya. Siswa-siswa di sini berasal dari masyarakat yang beragam. Namun, dalam pengalaman saya pada tahun 1990-an, hubungan sosialnya terasa kurang menyenangkan. Saya merasa ada jejak-jejak feodal di dalamnya, bahkan cukup kuat.

Kalau tidak salah, saya bersekolah di Indonesia sejak kelas dua sampai kelas empat atau kelas lima. Setelah itu, saya kembali ke luar negeri dan menjalani pendidikan SMP di sana. Saya kembali masuk ke sistem pendidikan yang bukan sistem Indonesia. Pengalamannya berbeda sekali. Sekolah terasa lebih menyenangkan karena kami bisa lebih bebas mengobrol dan sebagainya.

“Setiap mau berangkat ke sekolah, saya selalu merasa pasti ada PR yang dikerjakan tetapi saya juga lupa yang mana yang perlu dikerjakan”

Salah satu hal yang paling saya ingat dari masa SD di Indonesia adalah Setiap guru meminta kami mengeluarkan PR di kelas, disitu sering kali saya baru teringat bahwa saya belum mengerjakannya. Saya bahkan sering merasa berdebar-debar ketika akan berangkat ke sekolah. Saya merasa pasti aja ada PR yang terlewat. Bagi saya, itulah salah satu pengalaman yang paling tidak menyenangkan: selalu lupa mengerjakan PR.

Wali kelas saya mengajar beberapa mata pelajaran. Kalau saya tidak mengerjakan PR, ia biasanya menyuruh saya maju ke depan kelas. Kadang-kadang, ada dua atau tiga anak yang ikut maju. Karena terlalu sering, saya merasa sudah dikenal sebagai anak yang selalu maju ketika guru memeriksa PR.

Lama-kelamaan, sebelum guru mengatakan bahwa anak yang tidak mengerjakan PR harus maju, saya sudah maju terlebih dahulu. perasaan, “Ya sudah, saya jadi anak bandel saja.” Saya kemudian dikenal sebagai murid yang sering tidak mengerjakan PR. 

Suatu ketika, guru yang mengajar berbeda dari biasanya, dari mata pelajaran lain datang mengajar. Ketika ia meminta kami mengeluarkan PR, saya langsung maju ke depan kelas. Guru itu bertanya mengapa saya berdiri di depan. Saya menjawab bahwa saya tidak mengerjakan PR.

Ia kemudian mengatakan bahwa saya tidak perlu maju dan meminta saya duduk kembali. Ia hanya mengingatkan agar saya tidak lupa mengerjakan PR.

Saya bingung. Guru yang satu menyuruh saya maju, tetapi guru yang lain tidak. Padahal, kesalahan saya sama.

Saya juga ingat bahwa ketika saya sudah berdiri di depan kelas, beberapa teman masih sibuk mengerjakan sesuatu yaitu PR itu. Suatu ketika pernah ada waktu guru mengoreksi PR lalu tindak tanduk para murid menunjukan mereka sibuk nyonterk sana-sini. Guru lalu meminta mengangkat tangan siapa saja yang belum mengerjakan PR sampai selesai ? ternyata yang mengangkat tangan banyak, saya berfikir jangan-jangan selama ini banyak juga yang nggak mengerjakan PR namun mereka tidak mengaku. 

Pengalaman lain berkaitan dengan kemampuan saya membaca jam. Pada waktu itu, saya belum bisa membaca jam dan belum memahami konsep waktu dengan baik.

Suatu hari, saya berangkat ke sekolah. Di perjalanan, saya ingin bermain di kali, lalu berhenti dan bermain di sana. Dari kejauhan, ada teman yang berlari sambil berteriak. Saya ingat ia mempertanyakan mengapa saya masih bermain di kali, padahal sudah waktunya masuk sekolah.

Saya tidak memahami apa masalahnya. Mengapa saya tidak boleh bermain di kali? Saya tetap berada di sana, lalu masuk sekolah dalam keadaan terlambat.

Seingat saya, awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun, kemudian ada yang melaporkan bahwa saya terlambat. Intinya, pada waktu itu saya memang belum memahami cara membaca jam.

“Lihat baca itu, kok kamu nggak ngerti sih ?!”

Saya juga pernah diminta membaca jam dan ternyata tidak bisa. Guru menanggapi dengan kebingungan, seolah-olah saya seharusnya sudah menguasainya.

Pengalaman belajar saya selama SD di Indonesia terasa sangat tidak menyenangkan. Menurut saya, hal ini dapat menjadi catatan bagi orang-orang yang bekerja di bidang pendidikan. Mereka perlu melihat bahwa kondisi psikologis setiap anak berbeda.

Guru berasal dari suatu institusi. Institusi itu membawa dan meneruskan nilai-nilai yang ingin dilestarikan. Sementara itu, anak juga datang dari institusi lain, yaitu keluarga.

Ketika nilai-nilai dalam keluarga tidak selaras dengan nilai-nilai yang dibawa sekolah atau negara, pertemuan keduanya dapat menjadi persoalan besar bagi anak.

“Ketika institusi keluarga dan institusi negara tidak selaras, anak dapat menghadapi persoalan besar.”

Menurut saya, banyak sekolah belum bisa mengikuti kebutuhan anak dengan pengalaman seperti itu. Persoalan ini tampaknya juga merupakan masalah klasik yang terus berulang dari zaman ke zaman.

Selain keluarga dan sekolah, masyarakat juga ikut membawa harapan tentang bagaimana seorang anak seharusnya bersikap. Ketika anak berbeda, masyarakat bisa saja menganggapnya aneh.

“Jangan-jangan, perbedaan yang dianggap sebagai masalah pada anak sebenarnya juga berkaitan dengan kesenjangan antarinstitusi.”

Menurut saya, hal inilah yang penting untuk dibahas.

Tuesday, October 13, 2026

 # Install necessary libraries

!pip install pandas numpy nltk scikit-learn gensim pyLDAvis matplotlib seaborn

# Import required libraries
import pandas as pd
import numpy as np
import re
import nltk
import gensim
import pyLDAvis.gensim_models as gensimvis
import matplotlib.pyplot as plt
import seaborn as sns

from nltk.corpus import stopwords
from nltk.tokenize import word_tokenize
from nltk.stem import WordNetLemmatizer
from sklearn.feature_extraction.text import CountVectorizer, TfidfVectorizer
from sklearn.decomposition import TruncatedSVD
from gensim import corpora, models

nltk.download('stopwords')
nltk.download('punkt')
nltk.download('wordnet')

# Step 1: Install and import libraries
!pip -q install gspread

import pandas as pd
import gspread
from google.colab import auth
from google.auth import default

# Step 2: Authenticate your Google account
auth.authenticate_user()

creds, _ = default()
gc = gspread.authorize(creds)

# Step 3: Enter your Google Sheets URL
sheet_url = "https://docs.google.com/spreadsheets/d/1LNs53_I4KNnsOmaulPEYuZtCGgHCJNtuOP2V1SfLfkg/edit?gid=48922892#gid=48922892"

# Step 4: Open Google Sheets
spreadsheet = gc.open_by_url(sheet_url)

# Step 5: Select the second worksheet
worksheet = spreadsheet.get_worksheet(1)

# Step 6: Retrieve all data
data = worksheet.get_all_values()

# Step 7: Convert to pandas DataFrame
df = pd.DataFrame(data[1:], columns=data[0])

# Step 8: Preview data
print("Total rows:", df.shape[0])
print("Total columns:", df.shape[1])

display(df.head(10))

Sunday, September 20, 2026

Hello, ini adalah beberapa referensi untuk membantu memahami konteks dalam praktik sinematografi.

01. Anatomi Kamera

02. Shot Size

03. Camera Angle

04. Camera Movement

05. Camera Framing



Saturday, November 1, 2025

Belajar tiada henti

 Ada diskusi terkait komunikasi di kampus diantara dosen2 ilmu komunikasi, yaitu fungsi Humas sebagai penyalur informasi eksternal dan juga Internal. Kalau bicara itu maka relevan sekali di tengah masalah rekrutmen P3K ini. Saya harus fair, bahwa tidak semua kesalahan itu diakibatkan oleh kepeg, dan tidak semua isu harus dijawab oleh mas Dio. Tidak semua berita harus lewat sosialisasi kan. Kita punya 3 perangkat digital, simpeg, simpel, dan email, buat apa bayar kalau nggak dipake.

Acuan bahwa pimpinan Warek 2 dan Kabiro "tidak tahu apa2" itu terlihat jelas bagaimana menangani masalah di P3K saat ini. Yang mana kondisi seperti ini tidak bisa hanya diredam dengan narasi-narasi spiritual saja. Ini Lembaga bapak/ibu, bukan pengajian. Tidak ada perencananaan yang matang dan atau tidak semacam tindakan yang luwes (contingency plan), itu (kesalahan) ada baiknya diakui saja. Komunikasi itu terbuka, dan cair sehingga bisa saja Lembaga mengakui kesalahan daripada menganggap pembicaraan sebagai noise.

Saya sebenarnya sebagai orang yang kurang lebih tahu lah daripada ahli komunikasi kelembagaan : tidak terbuka itu sangat merugikan Lembaga itu sendiri. Mungkin bagi orang lain yang melihat bahwa sejak kemarin ramai membicarakan di grup chat P3K lalu kemudian ditutup chatnya adalah hal yang biasa, sebaliknya saya melihatnya bahwa itu adalah tindakan yang menutup diri.

Saya seringkali terganggu itu dengan anggapan bahwa diskusi itu semacam "noise" yang tidak ada artinya, yang mengalihkan kita pada fokus, yang berisikan pesimisme, yang hanya berisiskan provokasi dan intimidasi. Bahwa noise itu hanya anggapan-anggapan negatif yang mengarah pada menjelekan dan merendakan (semacam hinaan). Makanya kemungkinanan adanya pihak-pihak yang tidak paham ketika ramai-ramai kemaren itu menjadi semacam lawakan (noise) aja. Tiap orang itu berbeda beda dalam menanggapi dan memberikan komentar, mereka (pimpinan) yang merasa terganggu dengan pembicaraan itu jelas beranggapan bahwa kita ini punya tendensi untuk menjatuhkan melalui noise yang bisa berkembang menjadi isu besar.

Hanya dengan diskui itu ada pembicaraan dan ada nuansa kolaborasi, serta kerjasama. bagaimana mengarahkan energi itu menjadi produktif disitulah seni berkomunikasi. Saya berfikir bahwa siapapun, yang sudah menyebut nyebut dirinya ahli pun bisa BELAJAR, dan itu dimulai dengan menerima masukan, mengakui kesalahan dan berkembang menjadi yang terbaik. 

Friday, November 10, 2023

Pendekatan Komunikasi Lingkungan yang visual

Pada November 2023 saya diminta untuk menjadi Juri pada sebuah event yakni Greenfest di kampus UPNVJ yang mana disitu para peserta menyerahkan karya karya seperti podcast, poster dan Esai. Salah satu event yang mana saya dijadikan juri adalah pada lomba poster yang menurut saya sangat menarik. Saya bersama juri lainnya memberikan penilaian berupa angka yang terbagi pada 5 indikator. Saya tentu memberikan definisi pada setiap indikator sebagai berikut: 

Orisinalitas (Orisinalitas):

  • Mencari pendekatan unik dan inovatif untuk menyampaikan pesan lingkungan.
  • mempertimbangkan apakah poster tersebut menyajikan ide-ide segar atau perspektif baru terhadap temanya.
Relevansi dengan Tema (Kesesuaian Tema):
  • Menilai seberapa selaras poster dengan tema atau topik lingkungan yang ditentukan.
  • Periksa apakah kontennya secara langsung menyampaikan dan mengkomunikasikan pesan yang dimaksudkan terkait isu lingkungan.
Kreativitas (Kreativitas):
  • Mengevaluasi elemen kreatif yang digunakan dalam poster, seperti gambar, skema warna, dan desain keseluruhan.
  • mempertimbangkan apakah poster tersebut menarik perhatian penonton melalui elemen imajinatif dan artistik.
Desain (Desain):
  • Menilai estetika desain secara keseluruhan, termasuk tata letak, tipografi, dan hierarki visual.
  • Mencari komposisi yang seimbang dan menarik secara visual yang secara efektif menyampaikan pesan yang diinginkan.
Efektivitas Komunikatif (Komunikatif):
  • Mengevaluasi seberapa baik poster mengkomunikasikan pesan lingkungannya kepada penonton.
  • Mempertimbangkan kejelasan dalam menyampaikan informasi, penggunaan bahasa, dan efektivitas poster secara keseluruhan dalam menyampaikan dampak yang diharapkan.
Penilaian saya tentu belum final yang menentukan juara dalam lomba itu. Penilaian saya murni atas ketentuan saya sendiri. Pada kesempatan ini saya menyampaikan bahwa dari penilaian saya tersebut berikut adalah yang memiliki nilai tertinggi menurut pertimbangan 5 indikator diatas;
  • Muhammad Azzam Adzki Rabbani- Bebas sampah Bebas Penyakit
  • Izzah Al Aini - Green
  • TIM GARONG - JAGA LINGKUNGAN LESTARIKAN KEHIDUPAN
  • Fathul Nisa - Energi Terbarukan Membangun Warisan Hijau untuk Anak Cucu Kita
  • Shifa Salsabilah - GEN Z BUAT JAGA BUMI 






Penilaian diatas mendapatkan nilai tertinggi di originalitas dan juga kreativitas, walau bagian text dan pemilihan font, juga kejelasan (claritiy) dalam menyampaikan pesan bisa diperbaiki lebih lanjut. Bersama penilaian tetinggi diatas maka saya sampaikan best pick sebagai runner up:
  • MOH. PANJI MAGHRIBA - HIJAUKAN BUMI KITA, WUJUDKAN GERAKAN 0 SAMPAH
  • EUGINA EVITA MARITO & AULIA PUTRI IZZATI - MUNG BEANS KONTINU, HIJAU. TERPADU
  • Yaqut Amjad Adillah Raharjo - SOLUSI UNTUK MASA DEPAN KOTAKU - 
  • Najla Nur Dzakiyyah - EARTH CLAN_SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT
  • Elsa - Happiness_Generasi Emas Bebas Sampah
  • Evira Lisnaina
 

 



Lomba tersebut sebenarnya harus bisa memisahkan antara poster dan infografik yang mana bisa mempengaruhi nilai akhir dari para juri karena beda fungsinya. Sebenarnya masih banyak poster lain dan juga infografik yang menarik mengenai lingkungan hidup akan tetapi penilaian diatas bisa dijadikan rujukan oleh para mahasiswa untuk membuat poster dengan pendekatan visual dalam menyampaikan pesan pesan terkait dengan lingkungan hidup.

Tuesday, October 24, 2023

Remeh Temeh dalam keilmuwan

Saya ini sebenarnya tidak banyak ingin bicara prihal yang tidak bermanfaat, tetapi untuk hal ini saya mau membicarakan agar bisa menjadi sebuah pengetahuan umum, pengalaman yang bisa diambil pelajarannya. Ketika itu saya menjadi seorang ketua sidang dalam pengujian proposal sebuah produksi film dokumenter, semula saya anggap ini adalah sebuah sidang biasa akan tetapi anggapan saya ternyata salah. Timbul sebuah pertanyaan yang ABSURD tentang perbedaan media, dan saya kutip:

"Apakah dokumenter TV dan film dokumenter itu berbeda ?" dan kemudian dijawab oleh mahasiswa yang diuji "Tidak" lalu yang menanyakan malah menjawab dengan komentar yang mana saya simpulkan sebagai miskonsepsi karena itu adalah sebuah remeh temeh dalam keilmuwan. Ini penjelasannya:

  1. Media film dewasa ini telah mengalami transformasi yang progresif revolusioner, karena sekarang cara pandangnya berkembang dan tidak bisa merujuk dengan itu yang telah dibicarakan 10-15 tahun ke belakang. contohnya salah satu dokumnter "Iced Cold" yang mana tidak bisa dikategorikan lagi apakah itu sebuah dokumenter TV yang tidak lagi menggunakan pendekatan reportase, dan juga film yang tidak menggunakan pendekatan drama. Reportase dalam dokumenter itu menjadi dramatis karena mencoba membuka cara pandang baru dari sebuah kasus yang disebut sebut sebagai "the trial of the century". 
  2. Kalau memang kedua media itu berbeda, lalu cara membedakannya bagaimana ? apakah dokumneter TV ditayangakn di TV dan dokumenter film ditayangkan di bioskop ? tentu hal itu akan menjadi lebih absurd, karena sesesutu tidak serta merta dinyatakan berbeda hanya karena di  media apa itu ditayangkan. 10-15 tahun yang lalu bisa saja disebut bahwa kedua media itu berbeda, tetapi hal itu tidak lah relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
  3. Miskonsepsi yang saya simpulkan sebagai remeh-temeh itu adalah ketika dijawab dengan si penanya itu dengan komentar "nah silahkan minta dibimbing aja" (sambil menunjuk ke arah saya). Menurut saya, itu adalah puncak dari kekeliruan yang dia buat. Saya bisa saja mengatakan "tolong dijawab saja, bagaimana cara membedakannya ?" namun saya merasa hal itu tidak perlu dinyatakan karena menghindari saya agar tidak masuk pada remeh temeh yang lebih jauh lagi. Sikap berdiam saja menyelesaikan absurditas tersebut.
Menurut saya, sebuah jawaban itu memperlihatkan kebenaran bahwa memang bisa saja ada perbedaan pada kedua media tadi dalam bentuk argumentasi. Seorang pengajar (dosen S1), salah satu hal yang paling penting adalah mempertanyakan bagaimana mahasiswa bisa menyimpulkan bahwa kedua media itu tidak berbeda dan bisa sama, itu barulah namanya sikap "KEILMUWANAN". Seseorang boleh memiliki pendapat yang berbeda asalkan dia mampu menjelaskan landasannya, dan konsisten dengan kesimpulannya (argumentasinya). Jika landasannya tidak faktual maka kesimpulannya bisa salah. Seorang ilmuwan merangsang seseorang untuk berfikir.

Apa fakta-fakta dibalik dari kesimpulan adanya kesamaan antara kedua media tadi ? dan itu tidak perlu didapatkan dari bimbingan siapapun 😂🤣. 

Menrutu saya, menjawab "nah silahkan minta dimbimbing aja" itu adalah sebuah sikap yang menimbulkan ambiguitas, karena tidak menunjukan jawaban mahasiswa itu betul atau salah. Kalau yang membimbing mengatakan itu sama, maka artinya ada perbedaan pendapat. Dari penjelasan diatas, saya selaku pembimbing mahasiswa itu mengatakan bahwa "tidak ada perbedaaan" sehingga disimpulkan bahwa kedua media itu sama, apalagi sekarang sudah masuk ke era digital, tidak ada perbedaan lagi (indistinguishable).

Remeh temeh dalam kelimuwana ini adalah sebuah bentuk percakapan yang tidak penting, dan pada tahap tertentu bisa menyesatkan karena alasan ambiguitas tadi. Alih-alih memberikan keterangan dan penjelasan, justru mengalihkan tanggung jawab itu kepada orang lain (pembimbing). Padahal dia bisa saja langsung menjelasakan perbedaan tersebut. Padahal, jika merasa perlu mempertanyakan maka ditanyakan saja fakta apa yang membuat mahasiswa menyimpulkan sama. 

Tuesday, September 19, 2023

TUGAS UTS Komunikasi Jaringan dan Big Data

Berikut dalah intruksi tugas untuk komunikasi jaringan dan big data

melakukan sentiment analysis dari Comment YT;

  1. Silahkan tentukan 2 video yang mana topiknya kamu tentukan sendiri sehingga ada komparasinya.
  2. Lakukan scraping dengan isntruksi di video01 dan video02 (mohon maaf atas kualitas suaranya)
  3. Gunakan coding.gs disini 
  4. Setelah dilakukan scraping lakukan pembersihan data, selalu ciptakan sheet baru jika ada perubahan. Lakukan pivot untuk mendapatkan tabel yang kamu bisa baca.
  5. Lakukan analisys sesuai yang video berikan
  6. Berikan kesimpulan dan analisis dalam bentuk PPT dan video durasi 4-7 menit. 
Minggu depan akan diadakan quiz dengan quiziz dengan waktu hanya 20 menit saja... makasi