"Saya bukan orang indonesia" atau setidaknya keasliannya boleh dipertanyakan, atau saya nggak sepenuhnya merasakan the Indonesian experience.
Bukan berarti saya ingin berbangga dengan hal itu. Namun, sampai usia sekitar 20 tahun, saya menghabiskan hampir separuh hidup saya di luar negeri. Saya tinggal di dua negara karena tugas orang tua, masing-masing sekitar empat tahun. Adik-adik saya bahkan lebih lama tinggal di luar negeri karena mereka sempat berpindah ke hampir tiga negara, sedangkan saya hanya dua negara.
Akhirnya, saya menjadi seseorang yang jauh dari budaya Indonesia. Saya merasa sistem pendidikan Indonesia tidak bisa mengakomodasi orang-orang seperti saya. Akan tetapi, nasionalisme saya boleh diuji karena sejak umur dini saya membela kepentingan Indonesia dengan menjadi yang terdepan dalam mempromosikan budaya Indonesia. Usia kecil saya digambarkan dengan bernyanyi, menari dan memberikan gambaran Indonesia ke mata dunia.
Saya juga ingat sebuah pengalaman saya ketika SD. Kalau tidak salah, waktu itu saya masih kelas satu dan bersekolah di sekolah Indonesia di luar negeri. Ketika kembali ke Indonesia, saya masuk kelas dua. Ternyata, sekolah Indonesia di luar negeri berbeda sekali dengan sekolah di Indonesia.
Saat itu, saya mulai bertanya-tanya tentang manfaat sekolah. Saya pernah diminta menghafal nama-nama provinsi beserta ibu kotanya. Kalau tidak salah, ada juga nama-nama kabupaten atau pembagian wilayah lainnya.
“menghafal segitu banyak nama-nama itu sebenarnya manfaatnya apa?”
Di Indonesia, saya juga mendapat pelajaran Pendidikan Moral Pancasila atau PMP, yang kemudian berubah menjadi PPKn. Saat itu, saya merasa pelajaran tersebut seperti doktrin. Rasanya kurang lebih seperti agama, tetapi saya menganggap pelajaran agama lebih penting daripada PPKn.
Sekarang, saya merasa hal-hal seperti itu memang penting. Namun, mengapa waktu itu saya berpikir sebaliknya? Ternyata, persoalannya bukan sekadar penting atau tidak penting. Persoalannya juga menyangkut siapa yang menempatkan sesuatu sebagai hal penting, yaitu para guru. Di belakang guru, tentu ada sistem ada institusi.
“Saya tidak bisa menyalahkan guru saja karena ada sistem di belakangnya yang mewajibkan itu untuk disampaikan”
Guru juga belajar menjadi guru melalui suatu institusi. Karena itu, saya merasa persoalan ini tidak berhenti pada tindakan seorang guru saja.
Selain pelajaran PMP atau PPKn, saya juga merasakan perbedaan dalam struktur sosialnya. Siswa-siswa di sini berasal dari masyarakat yang beragam. Namun, dalam pengalaman saya pada tahun 1990-an, hubungan sosialnya terasa kurang menyenangkan. Saya merasa ada jejak-jejak feodal di dalamnya, bahkan cukup kuat.
Kalau tidak salah, saya bersekolah di Indonesia sejak kelas dua sampai kelas empat atau kelas lima. Setelah itu, saya kembali ke luar negeri dan menjalani pendidikan SMP di sana. Saya kembali masuk ke sistem pendidikan yang bukan sistem Indonesia. Pengalamannya berbeda sekali. Sekolah terasa lebih menyenangkan karena kami bisa lebih bebas mengobrol dan sebagainya.
“Setiap mau berangkat ke sekolah, saya selalu merasa pasti ada PR yang dikerjakan tetapi saya juga lupa yang mana yang perlu dikerjakan”
Salah satu hal yang paling saya ingat dari masa SD di Indonesia adalah Setiap guru meminta kami mengeluarkan PR di kelas, disitu sering kali saya baru teringat bahwa saya belum mengerjakannya. Saya bahkan sering merasa berdebar-debar ketika akan berangkat ke sekolah. Saya merasa pasti aja ada PR yang terlewat. Bagi saya, itulah salah satu pengalaman yang paling tidak menyenangkan: selalu lupa mengerjakan PR.
Wali kelas saya mengajar beberapa mata pelajaran. Kalau saya tidak mengerjakan PR, ia biasanya menyuruh saya maju ke depan kelas. Kadang-kadang, ada dua atau tiga anak yang ikut maju. Karena terlalu sering, saya merasa sudah dikenal sebagai anak yang selalu maju ketika guru memeriksa PR.
Lama-kelamaan, sebelum guru mengatakan bahwa anak yang tidak mengerjakan PR harus maju, saya sudah maju terlebih dahulu. perasaan, “Ya sudah, saya jadi anak bandel saja.” Saya kemudian dikenal sebagai murid yang sering tidak mengerjakan PR.
Suatu ketika, guru yang mengajar berbeda dari biasanya, dari mata pelajaran lain datang mengajar. Ketika ia meminta kami mengeluarkan PR, saya langsung maju ke depan kelas. Guru itu bertanya mengapa saya berdiri di depan. Saya menjawab bahwa saya tidak mengerjakan PR.
Ia kemudian mengatakan bahwa saya tidak perlu maju dan meminta saya duduk kembali. Ia hanya mengingatkan agar saya tidak lupa mengerjakan PR.
Saya bingung. Guru yang satu menyuruh saya maju, tetapi guru yang lain tidak. Padahal, kesalahan saya sama.
Saya juga ingat bahwa ketika saya sudah berdiri di depan kelas, beberapa teman masih sibuk mengerjakan sesuatu yaitu PR itu. Suatu ketika pernah ada waktu guru mengoreksi PR lalu tindak tanduk para murid menunjukan mereka sibuk nyonterk sana-sini. Guru lalu meminta mengangkat tangan siapa saja yang belum mengerjakan PR sampai selesai ? ternyata yang mengangkat tangan banyak, saya berfikir jangan-jangan selama ini banyak juga yang nggak mengerjakan PR namun mereka tidak mengaku.
Pengalaman lain berkaitan dengan kemampuan saya membaca jam. Pada waktu itu, saya belum bisa membaca jam dan belum memahami konsep waktu dengan baik.
Suatu hari, saya berangkat ke sekolah. Di perjalanan, saya ingin bermain di kali, lalu berhenti dan bermain di sana. Dari kejauhan, ada teman yang berlari sambil berteriak. Saya ingat ia mempertanyakan mengapa saya masih bermain di kali, padahal sudah waktunya masuk sekolah.
Saya tidak memahami apa masalahnya. Mengapa saya tidak boleh bermain di kali? Saya tetap berada di sana, lalu masuk sekolah dalam keadaan terlambat.
Seingat saya, awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun, kemudian ada yang melaporkan bahwa saya terlambat. Intinya, pada waktu itu saya memang belum memahami cara membaca jam.
“Lihat baca itu, kok kamu nggak ngerti sih ?!”
Saya juga pernah diminta membaca jam dan ternyata tidak bisa. Guru menanggapi dengan kebingungan, seolah-olah saya seharusnya sudah menguasainya.
Pengalaman belajar saya selama SD di Indonesia terasa sangat tidak menyenangkan. Menurut saya, hal ini dapat menjadi catatan bagi orang-orang yang bekerja di bidang pendidikan. Mereka perlu melihat bahwa kondisi psikologis setiap anak berbeda.
Guru berasal dari suatu institusi. Institusi itu membawa dan meneruskan nilai-nilai yang ingin dilestarikan. Sementara itu, anak juga datang dari institusi lain, yaitu keluarga.
Ketika nilai-nilai dalam keluarga tidak selaras dengan nilai-nilai yang dibawa sekolah atau negara, pertemuan keduanya dapat menjadi persoalan besar bagi anak.
“Ketika institusi keluarga dan institusi negara tidak selaras, anak dapat menghadapi persoalan besar.”
Menurut saya, banyak sekolah belum bisa mengikuti kebutuhan anak dengan pengalaman seperti itu. Persoalan ini tampaknya juga merupakan masalah klasik yang terus berulang dari zaman ke zaman.
Selain keluarga dan sekolah, masyarakat juga ikut membawa harapan tentang bagaimana seorang anak seharusnya bersikap. Ketika anak berbeda, masyarakat bisa saja menganggapnya aneh.
“Jangan-jangan, perbedaan yang dianggap sebagai masalah pada anak sebenarnya juga berkaitan dengan kesenjangan antarinstitusi.”
Menurut saya, hal inilah yang penting untuk dibahas.






_PRINTABLE%20SOLAR%20CELL%20-%20Asna%20Mala_001.png)
_Air%20Lindi%20sebagai%20pupuk%20cair,%20dalam%20mengurangi%20pencemaran%20tanah%20-%20CLARA%20ALEXANDRA_001.png)



_%20JAGA%20LINGKUNGAN%20LESTARIKAN%20KEHIDUPAN.%20-%20Yu%20Yum_001.png)



%20KONTINU,%20HIJAU.%20TERPADU%20-%20Eugina%20Hutabarat_001.png)



