Saya ini sebenarnya tidak banyak ingin bicara prihal yang tidak bermanfaat, tetapi untuk hal ini saya mau membicarakan agar bisa menjadi sebuah pengetahuan umum, pengalaman yang bisa diambil pelajarannya. Ketika itu saya menjadi seorang ketua sidang dalam pengujian proposal sebuah produksi film dokumenter, semula saya anggap ini adalah sebuah sidang biasa akan tetapi anggapan saya ternyata salah. Timbul sebuah pertanyaan yang ABSURD tentang perbedaan media, dan saya kutip:
"Apakah dokumenter TV dan film dokumenter itu berbeda ?" dan kemudian dijawab oleh mahasiswa yang diuji "Tidak" lalu yang menanyakan malah menjawab dengan komentar yang mana saya simpulkan sebagai miskonsepsi karena itu adalah sebuah remeh temeh dalam keilmuwan. Ini penjelasannya:
- Media film dewasa ini telah mengalami transformasi yang progresif revolusioner, karena sekarang cara pandangnya berkembang dan tidak bisa merujuk dengan itu yang telah dibicarakan 10-15 tahun ke belakang. contohnya salah satu dokumnter "Iced Cold" yang mana tidak bisa dikategorikan lagi apakah itu sebuah dokumenter TV yang tidak lagi menggunakan pendekatan reportase, dan juga film yang tidak menggunakan pendekatan drama. Reportase dalam dokumenter itu menjadi dramatis karena mencoba membuka cara pandang baru dari sebuah kasus yang disebut sebut sebagai "the trial of the century".
- Kalau memang kedua media itu berbeda, lalu cara membedakannya bagaimana ? apakah dokumneter TV ditayangakn di TV dan dokumenter film ditayangkan di bioskop ? tentu hal itu akan menjadi lebih absurd, karena sesesutu tidak serta merta dinyatakan berbeda hanya karena di media apa itu ditayangkan. 10-15 tahun yang lalu bisa saja disebut bahwa kedua media itu berbeda, tetapi hal itu tidak lah relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
- Miskonsepsi yang saya simpulkan sebagai remeh-temeh itu adalah ketika dijawab dengan si penanya itu dengan komentar "nah silahkan minta dibimbing aja" (sambil menunjuk ke arah saya). Menurut saya, itu adalah puncak dari kekeliruan yang dia buat. Saya bisa saja mengatakan "tolong dijawab saja, bagaimana cara membedakannya ?" namun saya merasa hal itu tidak perlu dinyatakan karena menghindari saya agar tidak masuk pada remeh temeh yang lebih jauh lagi. Sikap berdiam saja menyelesaikan absurditas tersebut.
Remeh temeh dalam kelimuwana ini adalah sebuah bentuk percakapan yang tidak penting, dan pada tahap tertentu bisa menyesatkan karena alasan ambiguitas tadi. Alih-alih memberikan keterangan dan penjelasan, justru mengalihkan tanggung jawab itu kepada orang lain (pembimbing). Padahal dia bisa saja langsung menjelasakan perbedaan tersebut. Padahal, jika merasa perlu mempertanyakan maka ditanyakan saja fakta apa yang membuat mahasiswa menyimpulkan sama.